MEMPERBAIKI KEMBALI PUING-PUING KEJAYAAN PASAR TRADISIONAL
Pasar tradisional di jakarta sudah
waktunya diremajakan guna meningkatkan daya saing dengan pasar modern. Pesatnya
pertumbuhan di DKI Jakarta melahirkan banyak bangunan pencakar langit dari Ibu Kota,
salah satunya pusat perbelanjaan modern alias mall. Pasar tradisional yang
menjadi imbasnya rakyat kecil kalah saing dan makin lama terpinggirkan.
Ujung-ujungnya, lokasi pasar tradisional diratakan dengan tanah untuk dibangun
pusat perbelanjaan modern.
Alhasil, pedagang kecil tidak lagi
punya tempat untuk berjualan. Mereka juga tidak berdaya ketika penguasa ikut
campur tangan dalam “pemberangusan” pasar tradisional. Para pedagang dipaksa
angkat kaki dengan berbagai dalih seperti diminta menyewa kios di dalam mall
yang tentu saja harganya jauh dari jangkauan. Bukan rahasia umum jika sebelum
pasar modern dibangun pasar tradisional yang bakal dijadikan lahan bakal
bermasalah. Entah bangunannya tidak diperbaiki pengelola pasar atau tiba-tiba
saja dipasar tradisional itu terjadi kebakaran. Contohnya adalah Pasar Senen di
Jakarta Pusat dan Pasar Rumput di Jakarta Selatan. Dua pasar yang berjauhan itu
terbakar dalam kurun tiga hari. Pasar Senen terbakar pada hari jumat, sedangkan
Pasar Rumput terbakar pada hari senin. Kerugian akibat musibah itu ditaksir tak
kurang dari Rp. 100 miliar. Kuat dugaan penyebab kebakaran di pasar senen dan
di pasar rumput dikarenakan korsleting listrik.
Namun patut diingat, sebelum dua
pasar iu terbakar rencananya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan meremajakan
pasar tradisional yang diatasnya bakal dibangun rumah susun sewa sederhana.
Republika mencoba menggali informasi dari Direktur PD Pasar Jaya Djangga Lubis
terkait rencana Pemprov DKI Jakarta yang bakal meremajakan pasar tradisional.
Kepada Republika, Kamis (1/5), Djangga mengungkapkan tiga pasar tradisional
sudah dalam proses peremajaan. Tiga pasar itu adalah Pasar Kramat Jati, Pasar
Grogol, dan Pasar Cipulir. Pengamat perkotaan Nirwono Yoga berpendapat,
pasar-pasar tradisional di Jakarta memang sudah saatnya diremajakan. “untuk
meningkatkan daya saing pasar tradisional,” ujar Nirwono saat ditemui Republika
di Jakarta, Kamis(1/5). Ia mencatat dalam lima tahun kedepan 153 pasar
tradisional di Jakarta harus segera diremajakan. Artinya, lima tahun mendatang
jakarta memiliki pasar tradisional yang tidak kalah ciamik ketimbang pasar
modern. Namun, rencana peremajaan pasar tradisional bukan tanpa kendala. Tidak
sediki pedagang yang khawatir ketika pasar tradisional sudah diremajakan, harga
sewa kiosnya bakal melambung.
PASAR
MODERN BENTUK PENJAJAHAN TERHADAP PASAR TRADISIONAL
Di Indonesia, supermarket lokal telah ada sejak
1970-an, meskipun masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Supermarket bermerek
asing mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an semenjak kebijakan investasi
asing langsung dalam sektor usaha ritel dibuka pada 1998. Kehadiran peritel
modern pada awalnya tidak mengancam pasar tradisonal. Kehadiran para peritel
modern yang menyasar konsumen dari kalangan menengah keatas, saat itu lebih
menjadi alternatif dari pasar tradisional yang identik dengan kondisi pasar yang
kumuh, dengan tampilan dan kualitas yang buruk, serta harga jual rendah dan
sistem tawar menawar konvensional. Namun sekarang ini kondisinya telah banyak
berubah. Supermarket dan Hypermarket tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Kondisi
ini muncul sebagai kosekuensi dari berbagai perubahan dimasyarakat.
Sebagai konsumen, masyarakat menuntut hal yang berbeda di dalam aktifitas
berbelanja. Kondisi ini masih ditambah semakin meningkatnya pengetahuan,
pendapatan, dan jumlah keluarga berpendapatan ganda (suami istri bekerja)
dengan waktu berbelanja yang terbatas.
Tidak hanya di kota metropolitan saja tetapi
sudah merambah sampai kota kecil di tanah air. Sangat mudah menjumpai
minimarket, supermarket bahkan hypermarket di sekitar tempat tinggal kita.
Tempat-tempat tersebut menjanjikan tempat belanja yang nyaman dengan harga yang
tidak kalah menariknya. Namun dibalik kesenangan tersebut ternyata telah
membuat para peritel kelas menengah dan kelas bawah mengeluh. Dampak keberadaan
pasar modern terhadap pedagang pasar tradisional mungkin tidak secara jelas,
sebab ada juga beberapa penyebab lain turunnya kinerja usaha pasar tradisional.
Misalnya karena Pedagang Kaki Lima (PKL), keadaan pasar yang kurang nyaman,
turunnya daya beli masyarakat akibat krisis, dan penyebab lainnya.
Di Indonesia pangsa pasar dan kinerja usaha
pasar tradisional menurun, sementara pada saat yang sama pasar modern mengalami
peningkatan setiap tahunnya. Kontribusi pasar tradisional sekitar 69,9% pada
tahun 2004, menurun dari tahun sebelumnya (2003) sekitar 73,7%. Kondisi
sebaliknya terjadi pada Supermarket dan Hypermarket, kontribusi mereka kian
hari kian besar. Pada tahun 2003 kontribusi pasar modern sebesar 26,3 %
mengalami kenaikan pada tahun berikutnya, 2004 menjadi 30,1%. Menurunnya kinerja
pasar tradisional selain disebabkan oleh adanya pasar modern, penurunannya
justru lebih disebabkan oleh lemahnya daya saing para peritel tradisional.
Kondisi pasar tradisional pada umumnya memprihatinkan. Banyak pasar tradisional
yang tidak terawat sehingga dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh
pasar modern kini pasar tradisional terancam oleh keberadaan pasar modern.
Kelemahan tersebut telah menjadi karakter dasar yang sangat sulit di ubah.
Hanya tinggal menunggu waktu pasar tradisional
akan mati oleh pasar modern Setelah tertunda 2,5 tahun, Peraturan Presiden
(Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional,
Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern (biasa disebut Perpres Pasar Modern),
akhirnya ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Desember
2007 lalu.
Berikut ini terdapat beberapa perbedaan antara
Pasar Tradisional dan Pasar Modern antara lain :
-
Jenis-jenis barang yang
dijual pada pasar tradisonal terfokus pada kebutuhan sandang-pangan sehari-hari
dan kebutuhan primer, sedangkan pasar modern jenis-jenis barang yang di jual
adalah beragam dari barang-barang premis, subtitusi bahkan ekslusif.
-
Penjual yang
beraktifitas dalam pasar modern pada dasarnya telah memiliki pengalaman dalam
pengatahuan bisnis sedangkan penjual yang beraktifitas dalam pasar tradisional
hanya berharap pada nasib keuntungan
-
Pasar modern menawarkan
diskon dan freebies sedangkan pasar tredisional tidak ada
-
Pasar modern lebih
bersih dari pasar tradisional
-
Pembeli yang datang
pada pasar tradisional pada umumnya masyarakat menengah kebawah dan masyarakat
berekonomi rendah. Sedangkan pembeli pada pasar modern umumnya masyarakat
menengah ke atas dan masyarakat ekonomi tinggi
-
Pembeli yang datang
pada pasar modern berasal dari masyarakat setempat dan masyarakat luar daerah
sedangkan pasar tradisional pembelinya hanya dari masyarakat setempat.
-
Modal yang di milik
oleh penjual di pasar modal jumlahnya relative besar sedangkan penjual di pasar
tradisional memiliki modal yang relative rendah
-
Pasar modern tidak
dapat tawar menawar sedangkan pasar tradisional dapat tawar-menawar
Berikut ini terdapat beberapa persamaan antara
Pasar Tradisional dan Pasar Modern antara lain :
-
Sama-sama sebagai
tempat terjadi jual beli antara pedagang dengan pembeli
-
Terdapat pembeli dan penjual
-
Sama-sama menjual barang-barang seperti bahan
makanan, makanan ringan, dll
-
Sama-sama dapat dikunjungi mulai dari kalangan
atas sampai kalangan bawah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar