Selasa, 29 September 2015

Tugas 2 Review


MEMPERBAIKI KEMBALI PUING-PUING KEJAYAAN PASAR TRADISIONAL

            Pasar tradisional di jakarta sudah waktunya diremajakan guna meningkatkan daya saing dengan pasar modern. Pesatnya pertumbuhan di DKI Jakarta melahirkan banyak bangunan pencakar langit dari Ibu Kota, salah satunya pusat perbelanjaan modern alias mall. Pasar tradisional yang menjadi imbasnya rakyat kecil kalah saing dan makin lama terpinggirkan. Ujung-ujungnya, lokasi pasar tradisional diratakan dengan tanah untuk dibangun pusat perbelanjaan modern.
            Alhasil, pedagang kecil tidak lagi punya tempat untuk berjualan. Mereka juga tidak berdaya ketika penguasa ikut campur tangan dalam “pemberangusan” pasar tradisional. Para pedagang dipaksa angkat kaki dengan berbagai dalih seperti diminta menyewa kios di dalam mall yang tentu saja harganya jauh dari jangkauan. Bukan rahasia umum jika sebelum pasar modern dibangun pasar tradisional yang bakal dijadikan lahan bakal bermasalah. Entah bangunannya tidak diperbaiki pengelola pasar atau tiba-tiba saja dipasar tradisional itu terjadi kebakaran. Contohnya adalah Pasar Senen di Jakarta Pusat dan Pasar Rumput di Jakarta Selatan. Dua pasar yang berjauhan itu terbakar dalam kurun tiga hari. Pasar Senen terbakar pada hari jumat, sedangkan Pasar Rumput terbakar pada hari senin. Kerugian akibat musibah itu ditaksir tak kurang dari Rp. 100 miliar. Kuat dugaan penyebab kebakaran di pasar senen dan di pasar rumput dikarenakan korsleting listrik.
            Namun patut diingat, sebelum dua pasar iu terbakar rencananya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan meremajakan pasar tradisional yang diatasnya bakal dibangun rumah susun sewa sederhana. Republika mencoba menggali informasi dari Direktur PD Pasar Jaya Djangga Lubis terkait rencana Pemprov DKI Jakarta yang bakal meremajakan pasar tradisional. Kepada Republika, Kamis (1/5), Djangga mengungkapkan tiga pasar tradisional sudah dalam proses peremajaan. Tiga pasar itu adalah Pasar Kramat Jati, Pasar Grogol, dan Pasar Cipulir. Pengamat perkotaan Nirwono Yoga berpendapat, pasar-pasar tradisional di Jakarta memang sudah saatnya diremajakan. “untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional,” ujar Nirwono saat ditemui Republika di Jakarta, Kamis(1/5). Ia mencatat dalam lima tahun kedepan 153 pasar tradisional di Jakarta harus segera diremajakan. Artinya, lima tahun mendatang jakarta memiliki pasar tradisional yang tidak kalah ciamik ketimbang pasar modern. Namun, rencana peremajaan pasar tradisional bukan tanpa kendala. Tidak sediki pedagang yang khawatir ketika pasar tradisional sudah diremajakan, harga sewa kiosnya bakal melambung.




PASAR MODERN BENTUK PENJAJAHAN TERHADAP PASAR TRADISIONAL
Di Indonesia, supermarket lokal telah ada sejak 1970-an, meskipun masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Supermarket bermerek asing mulai masuk ke Indonesia pada akhir 1990-an semenjak kebijakan investasi asing langsung dalam sektor usaha ritel dibuka pada 1998. Kehadiran peritel modern pada awalnya tidak mengancam pasar tradisonal. Kehadiran para peritel modern yang menyasar konsumen dari kalangan menengah keatas, saat itu lebih menjadi alternatif dari pasar tradisional yang identik dengan kondisi pasar yang kumuh, dengan tampilan dan kualitas yang buruk, serta harga jual rendah dan sistem tawar menawar konvensional. Namun sekarang ini kondisinya telah banyak berubah. Supermarket dan Hypermarket tumbuh bak cendawan dimusim hujan. Kondisi ini muncul sebagai  kosekuensi dari berbagai perubahan dimasyarakat. Sebagai konsumen, masyarakat menuntut hal yang berbeda di dalam aktifitas berbelanja. Kondisi ini masih ditambah semakin meningkatnya pengetahuan, pendapatan, dan jumlah keluarga berpendapatan ganda (suami istri bekerja) dengan waktu berbelanja yang terbatas.
Tidak hanya di kota metropolitan saja tetapi sudah merambah sampai kota kecil di tanah air. Sangat mudah menjumpai minimarket, supermarket bahkan hypermarket di sekitar tempat tinggal kita. Tempat-tempat tersebut menjanjikan tempat belanja yang nyaman dengan harga yang tidak kalah menariknya. Namun dibalik kesenangan tersebut ternyata telah membuat para peritel kelas menengah dan kelas bawah mengeluh. Dampak keberadaan pasar modern terhadap pedagang pasar tradisional mungkin tidak secara jelas, sebab ada juga beberapa penyebab lain turunnya kinerja usaha pasar tradisional. Misalnya karena Pedagang Kaki Lima (PKL), keadaan pasar yang kurang nyaman, turunnya daya beli masyarakat akibat krisis, dan penyebab lainnya.
Di Indonesia pangsa pasar dan kinerja usaha pasar tradisional menurun, sementara pada saat yang sama pasar modern mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kontribusi pasar tradisional sekitar 69,9% pada tahun 2004, menurun dari tahun sebelumnya (2003) sekitar 73,7%. Kondisi sebaliknya terjadi pada Supermarket dan Hypermarket, kontribusi mereka kian hari kian besar. Pada tahun 2003 kontribusi pasar modern sebesar 26,3 % mengalami kenaikan pada tahun berikutnya, 2004 menjadi 30,1%. Menurunnya kinerja pasar tradisional selain disebabkan oleh adanya pasar modern, penurunannya justru lebih disebabkan oleh lemahnya daya saing para peritel tradisional. Kondisi pasar tradisional pada umumnya memprihatinkan. Banyak pasar tradisional yang tidak terawat sehingga dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh pasar modern kini pasar tradisional terancam oleh keberadaan pasar modern. Kelemahan tersebut telah menjadi karakter dasar yang sangat sulit di ubah.
Hanya tinggal menunggu waktu pasar tradisional akan mati oleh pasar modern Setelah tertunda 2,5 tahun, Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern (biasa disebut Perpres Pasar Modern), akhirnya ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Desember 2007 lalu.
Berikut ini terdapat beberapa perbedaan antara Pasar Tradisional dan Pasar Modern antara lain :
-          Jenis-jenis barang yang dijual pada pasar tradisonal terfokus pada kebutuhan sandang-pangan sehari-hari dan kebutuhan primer, sedangkan pasar modern jenis-jenis barang yang di jual adalah beragam dari barang-barang premis, subtitusi bahkan ekslusif.
-          Penjual yang beraktifitas dalam pasar modern pada dasarnya telah memiliki pengalaman dalam pengatahuan bisnis sedangkan penjual yang beraktifitas dalam pasar tradisional hanya berharap pada nasib keuntungan
-          Pasar modern menawarkan diskon dan freebies sedangkan pasar tredisional tidak ada
-          Pasar modern lebih bersih dari pasar tradisional
-          Pembeli yang datang pada pasar tradisional pada umumnya masyarakat menengah kebawah dan masyarakat berekonomi rendah. Sedangkan pembeli pada pasar modern umumnya masyarakat menengah ke atas dan masyarakat ekonomi tinggi
-          Pembeli yang datang pada pasar modern berasal dari masyarakat setempat dan masyarakat luar daerah sedangkan pasar tradisional pembelinya hanya dari masyarakat setempat.
-          Modal yang di milik oleh penjual di pasar modal jumlahnya relative besar sedangkan penjual di pasar tradisional memiliki modal yang relative rendah
-          Pasar modern tidak dapat tawar menawar sedangkan pasar tradisional dapat tawar-menawar
Berikut ini terdapat beberapa persamaan antara Pasar Tradisional dan Pasar Modern antara lain :
-          Sama-sama sebagai tempat terjadi jual beli antara pedagang dengan pembeli
-          Terdapat pembeli dan penjual
-          Sama-sama menjual barang-barang seperti bahan makanan, makanan ringan, dll
-          Sama-sama dapat dikunjungi mulai dari kalangan atas sampai kalangan bawah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar