Kamis, 11 Juni 2015

Tugas 4 artikel 2 Sanksi FIFA terhadap PSSI

Artikel 2 : Sanksi FIFA terhadap PSSI (ditinjau dari sisi hak pemain & penonton sepak bola)

Kasus ini tentunya menggemparkan jagat sepak bola dunia khususnya Asia. AFC selaku induk organisasi sepak bola kawasan Asia menyebut Indonesia mengalami banyak kerugian akibat sanksi ini. FIFA resmi memberikan hukuman ke dunia sepak bola Indonesia pada 30 Mei 2015 lalu. Mereka baru akan mencabut hukuman itu jika PSSI dan Kemenpora sudah menyelesaikan masalahnya. seperti prediksi banyak pihak, FIFA mengeluarkan sanksi kepada Indonesia. Dalam surat keputusannya yang ditandatangani oleh Sekretaris Jendral FIFA, Jerome Valcke, Indonesia dilarang mengikuti, mengadakan, dan berpartisipasi  dalam pertandingan sepakbola Internasional. Dalam sanksi yang tidak ditentukan batas waktu berlakunya, FIFA sepertinya masih berbaik hati dengan mengizinkan Indonesia ikut dalam pertandingan-pertandingan sepakbola dalam SEA Games Singapura 2015 yang saat ini baru  saja berlangsung. Ini dikaitkan dengan potensi bisnis sepakbola di negara kita. Tepatnya penonton sepakbola yang begitu besar, diperkirakan FIFA tidak akan berani memberikan sanksi kepada Indonesia. Mereka yang menganggap sepi peluang jatuhnya sanksi FIFA terhadap Indonesia salah prediksi. Ini bisa dimaklumi karena landasan prediksi tersebut salah karena tidak mengerti peraturan yang berlaku dalam FIFA khususnya yang terkait dengan kewajiban anggota serta apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.  Tentu saja sanksi tersebut tidak ada kaitan dengan populasi suatu negara anggota FIFA. Juga aspek bisnis tidak masuk hitungan FIFA. Bahkan kalau ada yang mengangggap potensi bisnis sepakbola yang sangat besar di Indonesia, nampaknya ini kesimpulan yang tidak tepat. Banyak pihak memperkirakan bahwa potensi sepakbola kita akan meningkat seiring dengan meningkatnya laju pembangunan yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia. Faktor ini memang tidak dipandang sebelah mata oleh para sponsor.   Bagaimanapun sepakbola sudah merupakan industri. makna dari sanksi FIFA terhadap Indonesia sangat besar dan luas. Artinya, kerugian yang kita alami sangat besar. Kehilangan hak untuk mengikuti pertandingan internasional berarti peluang pemain-pemain kita baik klub maupun tim Nasional untuk  meningkatkan kualitas sudah tidak ada lagi. Kompetisilah yang membuat para pemain sepakbola menjadi lebih berkualitas. Dengan bertanding melawan tim-tim dan klub-klub bermutu akan banyak pelajaran yang diperoleh para pemain kita. Apalagi dengan dibekukannya PSSI maka dana sponsor tidak akan mengalir. Sementara dana bantuan pengembangan sepakbola FIFA otomatis akan distop. Kerugian ini mempunyai efek berantai, mulai dari pemain, klub, karyawan klub, pengelola dan karyawan lapangan, wasit dan juru garis, bahkan sampai penjaja makanan yang selalu siap saat pertandingan sepakbola berlangsung. Bagaimana dengan sponsor? Jelas dana akan disalurkan ke sektor lain. Tentu saja sponsor juga akan rugi dengan kondisi seperti ini. Alhasil, tidak ada yang untung. Satu-satunya jawaban adalah mengembalikan wewenang sepakbola kepada PSSI. Tentu disyaratkan agar PSSI memiliki komitmen penuh dalam melakukan revitalisasi dalam tubuh PSSI untuk meningkatkan prestasi sepakbola secara bertahap namun pasti.

            Sebelumnya semua pihak harus paham terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “ Jurisdiction PSSI “ yang jika kita mau terjemahkan secara bebas bisa bermakna “ Wilayah atau Kekuasaan Hukum PSSI “. Nah, apa yang dimaksud dengan wilayah atau kekuasaan hukum PSSI itu, tentunya adalah bahwa hal ini wilayah hak, tanggung jawab dan bagian dari kewajiban PSSI dengan aturan- aturan main atau regulasi yang harus dipenuhi PSSI ketika akan membentuk sebuah Team Nasional.

-          PSSI adalah satu-satunya organisasi sepakbola yang bersifat nasional yang berwenang mengatur, mengurus dan menyelenggarakan semua kegiatan atau kompetisi sepakbola di Indonesia – Statuta PSSI Pasal 3 (4)

-          Mencegah segala pelanggaran Statuta, peraturan-peraturan,instruksi dan keputusan-keputusan yang dikeluarkan FIFA, AFC, AFF dan PSSI serta peraturan permainan dan memastikan bahwa semua peraturan tersebut dipatuhi oleh seluruh anggota – Statuta PSSI Pasal 4(1e).

Jadi semua proses pembentukan teamnasional haruslah memperhatikan pasal-pasal tersebut. Tidak bisa se-enaknya sendiri. Dari paparan diatas kita bisa melihat bahwa apa yang dilakukan oleh KPSI dengan membentuk team sendiri nyata-nyata bukan saja melanggar kesepakatan yang sudah diambil tapi juga pelanggaran serius terhadap regulasi sepakbola dunia. Jujur saja, kompetisi kita di musim 2012 ini meninggalkan banyak sekali masalah, terutama soal kesiapan klub dari sisi finansial dan managerial.  Kedua operator gagal membangun kompetisi yang memberikan benefit kepada klub, terutama dari sisi finansial. Baik PT LI ataupun LPIS gagal mengadopsi Finansial Fairplay sebagai kerangka finansial management klub profesional dan membiarkan klub menjadi tidak mandiri dan rawan dikendalikan kepentingan. Ujungnya kompetisi kita kering tanpa makna dan tidak membantu banyak perbaikan sepakbola Indonesia.

            Saya yakin para pemain itu sangat berharap bisa membela panji merah putih, mereka tidak peduli siapa ketua federasinya, manager nya atau siapa pelatihnya, mereka ini juga anak-anak bangsa yang masih memiliki bendera dan lagu kebangsaan yang sama Indonesia. Tugas JC adalah membuktikan bahwa para pemain yang di panggil tersebut mendapatkan perlindungan dari tekanan ancaman dan intimidasi serta harus memiliki rasa aman. Kondisi kompetisi serba tidak jelas seperti ini sebenarnya sangat menguntungkan bagi pemain dan klub yang oportunis, bohong besar lah kalau ada yang bilang dengan kondisi seperti ini yang dirugikan adalah klub atau pemain, bagi kelompok opportunis, mereka malah bisa manfaatkan kondisi ini untuk menaikkan harga tawar, posisi mereka bisa dimanfaatkan oleh pihak yang berseteru untuk membangun suatu image, kekuatan dan opini pencitraan. Yang jadi korban itu adalah masa depan sepakbola Indonesia. Masih jauh kita berharap klub dan kompetisi benar-benar menjalankan aturan main profesional.

Menurut saya yang paling fundamental dari permintaan maaf adalah pernyataan bahwa mereka tidak akan lagi mengulangi perbuatannya,  siap bekerja sama dgn Ketum, Waketum dan Exco PSSI lainnya untuk membesarkan sepakbola Indonesia, tunduk taat dan patuh pada Statuta FIFA dan PSSI, Putusan-putusan yang dikeluarkan FIFA, AFC, AFF, PSSI dan Badan Arbritase CAS, membubarkan KPSI dan semua turunannya.  Inilah yang harus jadi landasan dan pinty masuk proses resinstate ke 4 orang tersebut kedalam tubuh PSSI. Yang jelas proses ini akan menjadi Jurisprudence baru di masa depan dan federasi harus bisa menjamin bahwa hal ini tidak akan digunakan lagi sebagai cara menggangu sepakbola Indonesia di masa depan. Oleh karenanya harus ada proses, tidak boleh serta merta tanpa syarat. Sepakbola Indonesia yang baru harus bersih dari semua elemen yang pernah terlibat langsung atau tidak langsung mengurusi sepakbola Indonesia dalam 30 tahun terakhir ( 2012 –  1982 ), mungkin perlu waktu 1 – 5 tahun membangun kembali rumah dari sisa puing dan debu ini, biarkanlah anak-anak muda bangsa yang baru yang mengurus masa depan sepakbola Indonesia.

Bukan hanya Menpora saja, tapi juga para pendukung Menpora pun harus turut bertanggung jawab. Karena secara logika, apabila kita selalu dibantu dan diperhatikan oleh orang lain seharusnya kita bersyukur, tapi justru yang terjadi adalah bantuan dan perhatian yang telah diberikan justru dibalas dengan perlawanan, seolah olah kita tidak menghargai bantuan tersebut. Sehingga apa yang terjadi, FIFA pun tidak akan membantu dan memperhatikan sepakbola Indonesia. Apakah Kita sanggup berdiri sendiri tanpa bantuan dan perhatian baik sama sekali utk selamanya dari FIFA tersebut? Jangan sampai saat bilang sanggup, tahu tahu keteteran dan berusaha lari dari tanggung jawab dengan mencari dalih dalih politik yang menyesatkan lagi. Saran kami adalah Menpora harus benar benar memperhitungkan dengan matang, bukan hanya sekedar masalah kedalautan Indonesia saja. Tapi setelah FIFA lepas tangan tidak peduli dengan sepakbola Indonesia untuk selamanya, berarti Menpora harus mencari rumusan baru untuk tetap bisa menghidupkan sepakbola Indonesia tersebut, karena PSSI yang baru nantinya, bukan saja tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah, tapi juga tidak dari FIFA juga untuk selamanya.

Sanksi dari FIFA berdampak terhadap karir pemain. Boaz Solossa pun angkat bicara mengenai hal ini. Sebagai kapten Timnas Indonesia, ia mulai mempertimbangkan untuk bermain di luar negeri karena tak bisa bermain sepak bola di negeri sendiri. “Saya siap menerima tawaran bermain di klub luar negeri jika sanksi dari FIFA masih berlaku di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya pernah ditawari oleh klub asal negara tetangga, tetapi saya menolak dengan alasan masih konsentrasi bersama Persipura,” kata Boaz ketika ditemui di kediamannya di Perumahan Pemda II Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Minggu (31/5). Sanksi dari FIFA ini tentu sangat berdampak bagi persepakbolaan nasional. Kebugaran para pemain juga akan terganggu mengingat timnas memeliki beberapa agenda kompetisi internasional. Belum lagi nasib klub dan juga keluarga para pemain sangat bergantung kepada kompetisi di Indonesia. Kembali kepada sepakbola kita, FIFA akan mencabut sanksinya dan memulihkan keanggotaan Indonesia apabila dipenuhi empat syarat yang utamanyaadalah bahwa urusan sepakbola dikelola secara independen oleh PSSI. Jangan lupa bahwa tata tertib pada setiap organisasi olahraga Internasional sangat jelas. FINA tidak segan untuk menjatuhkan skorsing kepada Phelps walau ia adalah juara Dunia. Organisasi atletik Internasional, IAAF, sudah sering menjatuhkan skorsing kepada atlet-atlet tingkat Dunia yang melanggar peraturan.

Dalam soal sepakbola Indonesia yang konon tim transisi akan mengadakan kongres Luar Biasa jelas ini salah kaprah jika sampai dilaksanakan. Kalau kita tidak dalam FIFA, apakah kita mau bergabung dengan organisasi sepakbola non-FIFA yang disebut VIVA? Organisasi ini antara lain anggotanya adalah provinsi Basque, Spanyol dan Siprus Utara. Dulu Gibraltar dan kepulauan Faroe adalah anggota VIVA, belakangan menjadi anggota FIFA. Padahal negara-negara kecil saja seperti San Marino, Andorra, dan Lichtenstein adalah anggota FIFA, seperti halnya negara-negara kecil di Pasifik dan Karibia.  Apakah Indonesia mau mundur dengan tidak menjadi anggota FIFA? Pertanyaan ini harus dijawab secepatnya sebelum makin besarnya kerugian yang kita hadapi dari segi ekonomi, bisnis, psikologi, dan sosiologi. Awalnya ada segelintir elite olahraga kita yang menganggap bahwa FIFA tidak akan sembarangan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia mengingat potensi sepakbola yang besar di Indonesia ditambah dengan populasi Indonesia yang besar.  Akan halnya potensi bisnis sepakbola di Indonesia, yang harus menjadi basis adalah daya beli masyarakat kita. Walaupun secara populasi Indonesia menduduki negara nomor empat di dunia, daya belinya jauh di bawah banyak negara maju. Ini terlihat dengan harga tiket untuk menonton pertandingan sepakbola  relatif rendah. Tidak heran jika gaji para pemain sepakbola profesional di Indonesia tidak besar. Sementara nilai transfer pemain juga kecil. Fakta lain bahwa klub-klub sepakbola kita kemampuan secara finansial tidak besar. Sanksi FIFA: Sanksi FIFA terhadap Indonesia mempunyai implikasi yang sangat luas. Beberapa konsekuensi dari  sanksi FIFA adalah bahwa PSSI kehilangan hak-haknya sebagai anggota FIFA, seperti tertera dalam  statuta FIFA  pasal 12 ayat 1.  Selain itu, semua tim sepakbola Indonesia, baik tim Nasional maupun klub-klubnya dilarang berhubungan keolahragaan  dengan anggota FIFA  yang lain termasuk AFC (Konfederasi Sepakbola Asia). Juga termasuk larangan untuk mengikuti kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan oleh FIFA dan AFC, sebagaimana yang terdapat dalam pasal 14 ayat 3. Aspek lain adalah bahwa PSSI dan para offisialnya tidak akan memperoleh hak terkait program-program pengembangan FIFA, serta pelatihan-pelatihan selama masa berlakunya sanksi.

Sumber :

www.indomedianews.com

www.hot.detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar